Jumat, 18 April 2014

Karakteristik, komponen, kategori dan kapabilitas sistem pendukung keputusan



1. karakteristik Sistem Pendukung Keputusan (Turban, E., 2005) :

Dukungan kepada pengambil keputusan, terutama pada situasi semi terstruktur dan tak terstruktur, dengan menyertakan penilaian manusia dan informasi terkomputerisasi. Masalah-masalah tersebut tidak bisa di pecahkan oleh sistem komputer lain atau oleh metode atau alat kuantitatif standar.

o Keputusan Terstruktur : contoh : Keputusan pemesanan barang dan keputusan penagihan piutang.

o Keputusan Semiterstruktur : Keputusan yang memiliki 2 sifat, separoh ditangani komputer sebahagian lagi tetap dilakukan oleh pengambil keputusan. Contoh :

- Pengevaluasian Kredit,

- Penjadwalan Produksi,

- Pengendalian Persediaan

o Keputusan Tidak Terstruktur : Keputusan yang penanganannya rumit karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak selalu terjadi.

Contoh :

- Pengembangan Teknologi Baru,

- Bergabung dengan Perusahaan Lain,

- Perekrutan Eksekutif.
Dukungan untuk semua level manajerial, dari eksekutif puncak sampai manajer lini

Contoh : Sistem Pendukung Keputusan Penerimaan Beasiswa
Dukungan untuk semua individu dan kelompok. Masalah yang kurang terstruktur sering memerlukan keterlibatan individu dari departemen dan tingkat organisasional yang berbeda atau bahkan dari organisasi lain.

Contoh : Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Walikota se-Nad.

Maksudnya disini adalah dalam pemilihan ini jelas terlihat bahwa pencalonan walikota tidak hanya satu orang yang mencalonkan diri, tetapi banyak orang yang mencalonkan dirinya sebagai calon walikota. Dari hal ini kita tidak bisa memilih semuanya, akan tetapi kita harus memilih salah satu.


Dukungan untuk keputusan independen dan atau sekuensial. Keputusan bisa di buat satu kali, beberapa kali, atau berulang (dalam interval yang sama)

Contoh : Sistem Pendukung Keputusan Pembangunan INDOMARET.

Maksudnya disini adalah Penyaranan terhadap lokasi pembangunan Indomaret bukan hanya pada satu lokasi, tetapi banyak lokasi misalnya: lokasi A, B, Dan C. Dan setelah dianalisa terpilihlah salah satu lokasi yang tepat sebagai lokasi Pembangunan Indomaret. Itu semua diputuskan atas dasar keputusan yang dibuat satu kali, beberapa kali, atau berulang (dalam interval yang sama).
Dukungan di semua fase proses pengambilan keputusan: intelegensi, desain, pilihan, dan implementasi.

- intelegensi : Pencarian kondisi yang membutuhkan keputusan (cari informasi, identifikasi objectives).

- Desain : Mencari, membangun dan menganalisis kemungkinan solusi (manipulasi informasi, cari alternatif, beri bobot resiko/benefit pada alternatif).

- Pilihan : Memilih satu solusi untuk diimplementasikan (pilih yg paling “baik”, statistik alternatif, jelaskan, terangkan).

Contoh : Sistem Pendukung Keputusan Pembangunan Suzuya square

Dukungan di berbagai proses dan gaya pengambilan keputusan.

Gaya pengambilan = model ( Metode untuk menyelesaikan masalah )

Misalnya : bobot => model entropi, SPK AHP

Contoh : SPK Lokasi pembangunan Indomaret dengan menggunakan bobot Entropi

dan menggunakan Model SPK AHP dan Group Delphi.


Adaptivitas sepanjang waktu. Pengambil keputusan seharusnya reaktif, bisa menghadapi perubahan kondisi secara cepat, dan mengadaptasi Sistem Pendukung Keputusan untuk memenuhi perubahan tersebut. Sistem Pendukung Keputusan bersifat fleksibel. Oleh karena itu, pengguna bisa menambahkan, menghapus, menggabungkan, mengubah, atau menyusun kembali elemen-elemen dasar. Sistem Pendukung Keputusan juga fleksibel dalam hal ini bisa di modifikasi untuk memecahkan masalah lain yang sejenis.


Ramah pengguna, kapabilitas grafis yang sangat kuat, dan antarmuka manusia-mesin yang interaktif dengan satu bahasa alami bisa sangat meningkatkan efektivitas Sistem Pendukung Keputusan .


Peningkatan efektivitas pengambilan keputusan (akurasi, timeliness, kualitas) ketimbang pada efisiennya (biaya pengambilan keputusan). Ketika Sistem Pendukung Keputusan disebarkan, pengambilan keputusan sering membutuhkan waktu yang lebih lama, tetapi hasilnya lebih baik.


Kontrol penuh oleh pengambil keputusan terhadap semua langkah proses pengambilan keputusan dalam memecahkan suatu masalah. Sistem Pendukung Keputusan secara khusus menekankan untuk mendukung pengambilan keputusan, bukannya menggantikan.


Pengguna akhir bisa mengembangkan dan memodifikasi sendiri sistem sederhana. Sistem yang lebih besar bisa di bangun dengan bantuan ahli sistem informasi. Perangkat lunak OLAP dalam kaitannya dengan data warehouse memperbolehkan pengguna untuk membangun Sistem Pendukung Keputusan yang cukup besar dan komplek.


Biasanya, model-model di gunakan untuk menganalisis situasi pengambilan keputusan. Kapabilitas pemodelan memungkinkan eksperimen dengan berbagai strategi yang berbeda di bawah konfigurasi yang berbeda.


Akses di sediakan untuk berbagi sumber data, format, dan tipe, mulai dari sistem informasi geografis (GIS) sampai sistem berorientasi objek.

Contoh : Mengakses data dari berbagai sumber

Mysql, Orade, Delphi, Vb, Java.

Format Tipe : Mysql =>

Oracle =>


Dapat di gunakan sebagai alat standalone oleh seorang pengambil keputusan pada satu lokasi atau di distribusikan di suatu organisasi secara keseluruhan dan di beberapa organisasi sepanjang rantai persediaan. Dapat di integrasikan dengan Sistem Pendukung Keputusan lain dan atau aplikasi lain, serta bisa di distribusikan secara internal dan eksternal menggunaka networking dan teknologi Web.

- Standalone : Komputer yang berdiri sendiri = tidak bisa diambil dari akses luar

Contoh : SPK Rumah Sakit

- Berbasis Web : contoh => pemilihan daerah lokasi pariwisata di Yogyakarta.

2. Komponen-Komponen Sistem Pendukung Keputusan

Penjelasan :

Data Internal => contoh : Database Beasiswa

Data Eksternal => contoh : data KTP

Menurut Turban (2005) Komponen-komponen SPK antara lain: [2]

Sistem Pendukung Keputusan terdiri dari empat subsistem, yaitu:

a. Manajemen Data, meliputi basis data yang berisi data-data yang relevan dengan keadaan dan dikelola oleh perangkat lunak yang disebut dengan Database Management System (DBMS).

Subsistem manajemen data terdiri dari :

v DSS database

v Database Management Syst

v Data dictionary

v Query facility

b. Manajemen Model berupa sebuah paket perangkat lunak yang berisi model-model finansial, statistik, management science, atau model kuantitatif, yang menyediakan kemampuan analisa dan perangkat lunak manajemen yang sesuai.
c. Subsistem Dialog atau komunikasi, merupakan subsistem yang dipakai oleh user untuk berkomunikasi dan memberi perintah (menyediakan user interface).

Subsistem ini mencakup :

v Perangkat keras dan perangkat lunak

v Kemudahan penggunaan

v Kemampuan untuk diakses

v Interaksi manusia-mesin

d. Manajemen Knowledge yang mendukung subsistem lain atau berlaku sebagai komponen yang berdiri sendiri. Beberapa metode dalam kecerdasan buatan dapat digunakan untuk keperluan tersebut.

3. Contoh Kategori Sistem Pendukung Keputusan

Turban (2005) mengkategorikan model sistem pendukung keputusan dalam tujuh model, yaitu:

a. Kategori masalah optimisasi dengan beberapa alternatif solusi:

v Mencari solusi terbaik dari sejumlah kecil alternatif

v Teknik: tabel keputusan, pohon keputusan

v Contoh:

– SPK Pemilihan Program Studi di Universitas (Diana & Marisca, 2006)

( metode : AHP )

– SPK Penentuan Menu bagi Penderita Diabetes (Joseph, 2006)

( metode : AHP )

– SPK Pemilihan Tipe Rumah (Agnes, 2007)

( metode : Program Linier )

b. Kategori optimisasi menggunakan algoritma:

v Mencari solusi terbaik dari sejumlah besar atau bahkan tak berhingga alternatif, menggunakan proses bertahap

v Teknik: model pemrograman linear, AHP, algoritma genetika, atau model matematis lain

v Contoh:

– SPK penentuan jalur pemasangan kabel listrik

( metode : CMP = Metode Critical Path )

– SPK penentuan jadwal kuliah

( metode : Algoritma Koloni Sumut )

– SPK Penentuan Lokasi KKN (Dance, 2006)

( metode : AHP )

c. Kategori optimisasi menggunakan formula analitis:

v Mencari solusi terbaik dalam satu langkah dengan menggunakan rumus (formula)

v Teknik: beberapa model inventori, dll

v Contoh:

– SPK Penentuan Harga Jual Buku di Penerbit & Percetakan (Dwianti, 1999)

( metode : Activity Based )

– SPK Penggantian Armada Taksi (Sakti, 2006)

( metode : AHP )

– SPK Penerimaan Siswa Baru di SMA (Purwanto, 2005)

( metode Decision Tree )

d. Kategori simulasi:

v Mencari solusi yang cukup baik (“good enough”), atau solusi terbaik dari beberapa alternatif yang dicek, menggunakan eksperimen atau coba-coba

v Teknik: simulasi probabilistik, simulasi tergantung waktu (time dependent), simulasi tidak tergantung waktu (time independent), simulasi visual

v Tidak menjamin ditemukannya solusi terbaik

v Contoh:

– SPK Penentuan Jumlah Kasir di Supermarket

( metode : AHP )

– SPK Penentuan Jumlah Stok Barang

( metode : Fuzzy )

– SPK Pemilihan Cat Tembok

( metode : AHP )

e. Kategori heuristik:

v Mencari solusi yang cukup baik (“good enough”) menggunakan aturan

v Bermanfaat pada situasi di mana:

– Persoalannya kompleks, simulasi terlalu memakan waktu

– Ingin didapat solusi yg lebih cepat dan murah dibanding menggunakan algoritma (meskipun tidak se-”umum” spt jika menggunakan algoritma)

v Teknik: pemrograman heuristik, sistem pakar

v Contoh:

– SPK Diagnosa Kerusakan Sepeda Motor

( metode : Forward Chaining )

f. Kategori model deskriptif lain:

v Mencari solusi “what-if” menggunakan formula

v Teknik: pemodelan finansial

v Contoh:

– SPK Penentuan Investasi

( metode : AHP )

– SPK Penentuan Anggaran Belanja

( metode : AHP )


g. Kategori model prediktif:

v Memprediksi masa mendatang untuk suatu skenario tertentu

v Teknik: analisis Markov, model peramalan (forecasting)

v Contoh:

– SPK Pendirian Sekolah Dasar à dibuat berdasar prediksi jumlah penduduk yang akan masuk SD pada suatu waktu tertentu

( metode : Forecasting )

4. Kapabilitas Sistem Pendukung Keputusan

Secara umum Spk harus memiliki kemampuan untuk :

v Digunakan dengan mudah.

v Mengakses berbagai sumber , tipe dan format data untuk berbagai permasalahan.

Maksudnya disini adalah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, dapat dilakukannya pengeksesan diantaranya pengeksesan yang dipedomani dari berbagai sumber, tipe maupun format data. Dimana telah kita ketahui sumber tersebut merupakan referensi yang paling utama untuk mendapatkan sebuah pnyelesaian yang sempurna yang didalamnya berisikan data – data yang konkrit. Sedangkan tipe data merupakan jenis data yang ditangani oleh suatu bahasa pemrograman pada komputer. Sementara itu format data merupakan petunjuk sebuah jenis dari data yang dimaksud.

v Mengakses berbagai kemampuan analisis dengan berbagai saran dan panduan

Maksudnya disini adalah sebagaimana kita ketahui menurut Suherman dan Sukjaya (1990: 49) menyatakan bahwa kemampuan analisis adalah kemampuan untuk merinci atau menguraikan suatu masalah (soal) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (komponen) serta mampu untuk memahami hubungan diantara bagian-bagian tersebut.Pengaksesan tersebut dipedomani dengan berbagai saran dan panduan yang dapat membantu penyelesaian tersebut.




Tujuan Sistem Pendukung Keputusan



Tujuan dari Sistem Pendukung Keputusan adalah sebagai berikut (Turban, 2005) :
  1. Membantu manajer dalam pengambilan keputusan atas masalah semi terstruktur.
  2. Memberikan dukungan atas pertimbangan manajer dan bukannya di maksudkan untuk menggantikan fungsi manajer
  3. Meningkatkan efektivitas keputusan yang di ambil manajer lebih daripada perbaikan efisiensinya
  4. Kecepatan komputasi. Komputer memungkinkan para pengambil keputusan untuk melakukan banyak komputasi secara cepat dengan biaya yang rendah
  5. Peningkatan produktivitas. Membangun suatu kelompok pengambil keputusan, terutama para pakar, bisa sangat mahal. Pendukung terkomputerisasi bisa mengurangi ukuran kelompok dan memungkinkan para anggotanya untuk berada di berbagai lokasi yang berbeda-beda (menghemat biaya perjalanan). Selain itu, produktivitas staf pendukung (misalnya analisis keuangan dan hukum) bisa di tingkatkan. Produktivitas juga bisa di tingkatkan menggunakan peralatan optimasi yang menentukan cara terbaik untuk menjalankan sebuah bisnis
  6. Dukungan kualitas. Komputer bisa meningkatkan kualitas keputusan yang di buat. Sebagai contoh, semakin banyak data yang di akses, makin banyak juga alernatif yang bisa di evaluasi. Analisis resiko bisa di lakukan dengan cepat dan pandangan dari para pakar (beberapa dari mereka berada di lokasi yang jauh) bisa dikumpulkan dengan cepat dan dengan biaya yang lebih rendah. Keahlian bahkan bisa di ambil langsung dari sebuah sistem computer melalui metode kecerdasan tiruan. Dengan computer, para pengambil keputusan bisa melakukan simulasi yang kompleks, memeriksa banyak scenario yang memungkinkan, dan menilai berbagai pengaruh secara cepat dan ekonomis. Semua kapabilitas tersebut mengarah kepada keputusan yang lebih baik.
  7. Berdaya saing. Manajemen dan pemberdayaan sumber daya perusahaan. Tekanan persaingan menyebabkan tugas pengambilan keputusan menjadi sulit. Persaingan di dasarkan tidak hanya pada harga, tetapi juga pada kualitas, kecepatan, kustomasi produk, dan dukungan pelanggan. Organisasi harus mampu secara sering dan cepat mengubah mode operasi, merekayasa ulang proses dan struktur, memberdayakan karyawan, serta berinovasi. Teknologi pengambilan keputusan bisa menciptakan pemberdayaan yang signifikan dengan cara memperbolehkan seseorang untuk membuat keputusan yang baik secara cepat, bahkan jika mereka memiliki pengetahuan yang kurang
  8. Mengatasi keterbatasan kognitif dalam pemrosesan dan penyimpanan. Menurut Simon (1977), otak manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk memproses dan menyimpan informasi. Orang-orang kadang sulit mengingat dan menggunakan sebuah informasi dengan cara yang bebas dari kesalahan

Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System)

    A.  Pengertian Pengambilan Keputusan (Decision Making)
Beberapa definisi keputusan yang dikemukakan para ahli dijelaskan sebagai berikut (Hasan, 2004):
1. Menurut Ralph C. Davis
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
2. Menurut Mary Follet
Keputusan adalah suatu atau sebagai hukum situasi. Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumnya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewenang dari hukum situasi.
3. Menurut James A.F.Stoner
Keputusan adalah pemilihan di antara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu:
a. Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan.
b. Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik.
c. Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tertentu.
4. Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH
Keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.
5. Menurut Robins (1997 : 236)
Berpendapat bahwa “decision making is which on choses between two or more alternative”. Berdasarkan pendapat diatas, dapat dipahami bahwa hakikat pengambilan keputusan ialah memilih dua alternatif atau lebih untuk melakukan suatu tindakan tertentu baik secara pribadi maupun kelompok. Suatu putusan ialah proses memilih tindakan tertentu antara sejumlah tindakan alternatif yang mungkin (Sutisna, 1985 : 149).
Dari pengertian-pengertian keputusan diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.
    B.     Proses Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah menentukan suatu jalan keluar dengan berkomunikasi secara bersama - sama.
Keputusan terdiri dari :
·         Keputusan Strategis
Yaitu keputusan yang dibuat oleh manajemen puncak dari suatu organisasi.
·         Keputusan Taktis
Keputusan yang diambil oleh manajement menengah.
·         Keputusan Operasional
Keputusan yang dibuat oleh manajemen bawah.
Pengambilan keputusan secara universal didefinisikan sebagai pemilihan diantara berbagai alternative. Pengertian ini mencakup baik pembuatan pilihan maupun pemecahan masalah. Langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan:
Menurut Herbert A. Simon, Proses pengambilan keputusan pada hakekatnya terdiri atas tiga langkah utama, yaitu:
-          Kegiatan Intelijen
Menyangkut pencarian berbagai kondisi lingkungan yang diperlukan bagi keputusan.
-          Kegiatan Desain
Tahap ini menyangkut pembuatan pengembangan dan penganalisaan berbagai rangkaian kegiatan yang mungkin dilakukan.
-          Kegiatan Pemilihan
Pemilihan serangkaian kegiatan tertentu dari alternative yang tersedia.
Sedangkan menurut Scott dan Mitchell, Proses pengambilan keputusan meliputi:
-          Proses pencarian/penemuan tujuan
-          Formulasi tujuan
-          Pemilihan Alternatif
-          Mengevaluasi hasil-hasil
Pendekatan konperhensif lainnya adalah dengan menggunakan analisis sistem, Menurut ELBING ada lima langkah dalam proses pengambilan keputusan:
-          Identifikasi dan Diagnosa masalah
-          Pengumpulan dan Analisis data yang relevan
-          Pengembangan dan Evaluasi alternative alternative
-          Pemilihan Alternatif terbaik
-          Implementasi keputusan dan Evaluasi terhadap hasil-hasil
Proses pengambilan keputusan dalam organisasi  ialah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama, didalam organisasi rentan terjadinya selisih pendapat begitu juga keputusan dalam mengambil sikap, dapat diartikan cara organisasi dalam pengambilan keputusan. Dalam proses pengambilan keputusan ada beberapa metode yang sering di gunakan oleh para pemimpin, yaitu :
1.      Kewenangan Tanpa Diskusi (Authority Rule Without Discussion)
Metode pengambilan keputusan ini seringkali digunakan oleh para pemimpin otokratik atau dalam                  kepemimpinan militer . Metode ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika   organisasi tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Selain itu, metode ini cukup sempurna dapat diterima kalau pengambilan keputusan yang dilaksanakan berkaitan dengan persoalan-persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya.
Namun demikian, jika metode pengambilan keputusan ini terlalu sering digunakan, ia akan menimbulkan persoalan-persoalan, seperti munculnya ketidak percayaan para anggota organisasi terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan memiliki kualitas yang lebih bermakna, apabila dibuat secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh anggota kelompok,daripada keputusan yang diambil secara individual.
2.      Pendapat Ahli (expert opinion)
Kadang-kadang seorang anggota organisasi oleh anggota lainnya diberi predikat sebagai ahli (expert), sehingga memungkinkannya memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membuat keputusan. Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja dengan baik, apabila seorang anggota organisasi yang dianggap ahli tersebut memang benar-benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota lainnya.
Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah masalah yang sederhana, karenasangat sulit menentukan indikator yang dapat mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa orang yang ahli adalah orang yang memiliki kualitas terbaik; untuk membuat keputusan, namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar ahli adalah persoalan yang rumit.
3.      Kewenangan Setelah Diskusi (authority rule after discussion)
Sifat otokratik dalam pengambilan keputusan ini lebih sedikit apabila dibandingkan dengan metode yang pertama. Karena metode authority rule after discussion ini pertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota organisasi dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keputusan yang diambil melalui metode ini akan mengingkatkan kualitas dan tanggung jawab para anggotanya disamping juga munculnya aspek kecepatan (quickness) dalam pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha menghindari proses diskusi yang terlalu meluas. Dengan perkataan lain, pendapat anggota organisasi sangat diperhatikan dalam proses pembuatan keputusan, namun perilaku otokratik dari pimpinan, kelompok masih berpengaruh.
Metode pengambilan keputusan ini juga mempunyai kelemahan, yaitu pada anggota organisasi akan bersaing untukmempengaruhi pengambil atau pembuat keputusan. Artinya bagaimana para anggota organisasi yang mengemukakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan, berusaha mempengaruhi pimpinan kelompok bahwa pendapatnya yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan.
4.      Kesepakatan (consensus)
Kesepakatan atau konsensus akan terjadi kalau semua anggota dari suatu organisasi mendukung keputusan yang diambil. Metode pengambilan keputusan ini memiliki keuntungan, yakni partisipasi penuh dari seluruh anggota organisasi akan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu metode konsensus sangat penting khususnya yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks.
Namun demikian, metodepengambilan keputusan yang dilakukan melalui kesepakatn ini, tidak lepas juga dari kekurangan-kekurangan. Yang paling menonjol adalah dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih lama, sehingga metode ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan mendesak atau darurat.
 Keempat metode pengambilan keputusan di atas, menurut Adler dan Rodman, tidak ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa satu metode lebih unggul dibandingkan metode pengambilan keputusan lainnya. Metode yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu, bergantung pada faktor-faktor:
-          Jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan
-          Tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan
-          Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin kelompok dalam mengelola kegiatan pengambilan keputusan tersebut.
Dari metode di atas tersebut sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan, yaitu :
-          Kekuatan Mental
Kekuatan mental itu sama seperti prinsip, jadi dalam organisasi harus punya prinsip.
-          Sanksi
Sanksi sangat perlu dalam organisasi, agar tidak melakukan kesalahan yang sama baik itu pemimpin maupun anggotanya.
-          Keahlian
Pemimpin harus punya kekuatan mental dalam organisasi, jika tidak sama saja seperti pemimpin yang tidak mempuanyi gelar.
-          Kharisma
Semua pemimpin harus punya kharisma agar terus menjadi panutan bagi semua orang. Maka dari itu kharisma merupakan citra baik yang di miliki seseorang agar menjadi panutan semua orang.
Model-model Pengambilan keputusan
a.      Model Perilaku Pengambilan keputusan
·         Model Ekonomi
yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu rasional, yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya marginal atau untuk memperoleh keuntungan maksimum
·         Model Manusia Administrasi
Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip orang tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan
·         Model Manusia Mobicentrik
Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan nilai utama sehingga orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan
·         Model Manusia Organisasi
Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan sifat setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan
·         Model Pengusaha Baru
Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif
·         Model Sosial
Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang seringb tidak rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah sadar.
b.      Model Preskriptif dan Deskriptif
Fisher mengemukakan bahwa pada hakekatnya ada 2 model pengambilan keputusan, yaitu:
·         Model Preskriptif
Pemberian resep perbaikan, model ini menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil keputusan.
·         Model Deskriptif
Model ini menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu.
Model preskriptif berdasarkan pada proses yang ideal sedangkan model deskriptif berdasarkan pada realitas observasi
Disamping model-model diatas (model linier) terdapat pula model Spiral dimana satu anggota mengemukakan konsep dan anggota lain mengadakan reaksi setuju tidak setuju kemudian dikembangkan lebih lanjut atau dilakukan “revisi” dan seterusnya.
Teknik-teknik Pengambilan Keputusan
a.      Teknik Kreatif
·         Brainstorming
          Berusaha untuk menggali dan mendapatkan kreatifitas maksimum dari kelompok dengan memberikan            kesempatan para anggota untuk melontarkan ide-idenya.
·         Synectics
Didasarkan pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan, dimaksudkan untuk meningktakan keluaran (output) kreatif individual dan kelompok
b.      Teknik Partisipatif
          Individu individu atau kelompok dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
·         Teknik Modern
-          Teknik Delphi
-          Teknik Kelompok Nominal
Contoh pengambilan keputusan dalam organisasi
DPR yang masih ragu dalam pengambilan keputusan menaikkan tarif listrik 10%. Ini di karenakan bentroknya pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah yang ingin tarif di naikkan, dan masyarakatnyanya yang tidak setuju. Mungkin bagi pemerintah memaksa ingin menaikkan tarif 10% hanya hal biasa saja, tetapi bagi masyarakat apalagi yang tidak mampu ini adalah hal yg berat. Akibatnya pihak DPR pun belum mengambil keputusan apapun untuk menaikkan atau tidak.
    C.     Pengertian Decision Support System (DSS)
Menurut Raymond McLeod, Jr. (1998) ,sistem pendukung keputusan sebagai sebuah sistem yang meyediakan kemampuan untuk penyelesaian masalah komunikasi untuk permasalahan yang bersifat semi terstruktur . Secara umum sistem pendukung keputusan (DSS) dapat dibagi menjadi beberapa kategori :
1.      Model-driven DSS. Pada model ini akan mengakses dan memanipulasi model statistik, keuangan, optimasi, atau model simulasi. Sistem menggunakan data dan parameter yang diberikan untuk menugaskan pengambilan keputusan dalam menganalisis situasi. Sistem ini tidak membutuhkan data secara intensif.
2.      Communication-driven DSS. Sistemini mengakomodasi dukungan dari beberapa pengambilan keputusan dalam berbagai tugas.
3.      Data-driven DSS.sistem ini mengakses dan memanipulasi data runtun waktu .
4.      Document-driven DSS. Sistem ini melakukan pengaturan ,temu kembali ,memanipulasi informasi yang tidak terstruktur dalam berbagai format elektronik.
5.      Knowledge-driven DSS. Sistem ini menyelesaikan masalah tertentu yang disimpan sebagai fakta, aturan, prosedur dan struktur lain yang sejenis.
Sistem pendukung ini membantu pengambilan keputusan manajemen dengan menggabungkan data, model-model dan alat-alat analisis yang komplek, serta perangkat lunak yang akrab dengan tampilan pengguna ke dalam satu sistem yang memiliki kekuatan besar (powerful) yang dapat mendukung pengambilan keputusan yang semi atau tidak terstruktur. DSS menyajikan kepada pengguna satu perangkat alat yang fleksibel dan memiliki kemampuan tinggi untuk analisis data penting. Dengan kata lain, DSS menggabungkan sumber daya intelektual seorang individu dengan kemampuan komputer dalam rangka meningkatkankualitas pengambilan keputusan. DSS diartikan sebagai tambahan bagi para pengambil keputusan, untuk memperluas kapabilitas, namun tidak untuk menggantikan pertimbangan manajemen dalam pengambilan keputusannya.
Konsep DSS dimulai pada akhir tahun 1960-an dengan timesharing komputer. Untuk pertama kalinya seseorang dapat berinteraksi langsung dengan komputer tanpa harus melalui spesialis informasi. Baru pada tahun 1971, istilah DSS diciptakan oleh G. Anthony Gorry dan Michael S. Scott Morton, keduanya professor MIT. Mereka merasa perlunya suatu kerangka kerja untuk mengarahkan aplikasi komputer kepada pengambilan keputusan manajemen dan mengembangkan apa yang telah dikenal sebagai Garry & Scott Morton Grid. Matrik (Grid) ini didasarkan pada konsep Simon mengenai keputusan terprogram dan tak terprogram serta tingkat-tingkat manajemen Robert N. Anthony. Gory dan Scott Morton menggambarkan jenis-jenis keputusan menurut struktur masalah, dan terstruktur hingga tidak terstruktur. Anthony menggunakan nama perencanaan strategis, pengendalian manajemen, dan pengendalian operasional untuk menjelaskan tingkat manajemen puncak, menengah dan bawah.
Tahap-tahap pengambilan keputusan Simon digunakan untuk menentukan struktur masalah, masalah terstruktur merupakan suatu masalah yang memiliki struktur pada tiga tahap pertama Simon, yaitu intelijen, rancangan, dan pilihan. Jadi, dapat dibuat algoritma, atau alternatif diidentifikasi dan dievaluasi, serta suatu solusi dipilih. Masalah tak terstruktur, sebaliknya, merupakan suatu masalah yang sama sekali tidak memiliki struktur pada tiga tahap Simon di atas. Masalah semi terstruktur merupakan masalah yang memiliki struktur hanya pada satu atau dua tahap Simon. Gory dan Scoot Morton memisahkan masalah yang telah, pada saat itu, berhasil dipecahkan dengan komputer dari masalah yang belum terkena pengolahan komputer. Area yang berhasil dipecahkan dengan komputer dinamakan sistem keputusan terstruktur (structure decision system-SDS), dan area yang belum terkena pengolahan komputer dinamakan sistem pendukung keputusan (decision support system-DSS). Gory dan Scott Morton awalnya menggunakan istilah DSS hanya untuk aplikasi komputer di masa depan. Selanjutnya istilah tersebut diterapkan pada semua aplikasi komputer yang didedikasikan untuk dukungan keputusan – baik sekarang maupun masa depan.
Decision Support System dimaksudkan untuk melengkapi sistem informasi manajemen dalam meningkatkan pengambilan keputusan. Sistem informasi manajemen terutama menyajikan informasi mengenai kinerja aktivitas untuk membantu manajemen memonitor dan mengendalikan kegiatan. Sistem informasi manajemen ini umumnya menghasilkan pelaporan yang terjadwal secara reguler dan tetap, berdasarkan data yang diperoleh dan diikhtisarkan dari sistem pemrosesan kegiatan atau transaksi yang dilaksanakan. Format atau bentuk dari pelaporan-pelaporan ini umumnya sudah ditentukan sebelumnya (baku). Satu bentuk pelaporan berbasiskan sistem informasi manajemen mungkin menunjukkan suatu ikhtisar realisasi penyerapan anggaran per bulan untuk setiap satuan kerja pada suatu instansi. Kadangkala laporan sistem informasi manajemen ini merupakan laporan eksepsi (exception reports), yaitu hanya menyoroti kondisi-kondisi yang khusus. Sistem informasi manajemen yang tradisional umumnya menyajikan pelaporan yang tercetak (hard copy reports).
Dewasa ini, pelaporan yang semacam itu dapat diperoleh secara on-line melalui intranet dan mungkin lebih banyak lagi laporan yang dapat dihasilkan berdasarkan kebutuhan. Jika Management Information System (MIS) menyajikan kepada penggunanya data atau informasi untuk pengambilan keputusan yang sudah pasti dan tetap (terstruktur atau rutin), maka DSS menyajikan seperangkat kemampuan untuk keputusan yang sifatnya tidak terstruktur, di mana DSS lebih menekankan pada pengambilan keputusan atas situasi yang dengan cepat mengalami perubahan, kondisi yang memerlukan fleksibilitas, dan berbagai keputusan untuk respon yang segera.
 
   D.    Manfaat Decision Support System (DSS)
Pentingnya model dalam suatu pengambila keputusan, anatara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsure-unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan/diselesaikan itu.
2.  Untuk memperjelas ( secara eksplisit ) mengenai hubungan signifikan diantara unsure-unsur itu.
3. Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antar variable. Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika.
4.      Untuk memberikan pengelolaan
 Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan proses yang membutuhkan penggunaan model yang tepat. Pengambila keputusan itu berusaha menggeser keputusan yang semula tanpa perhitungan menjadi keputusan yang penuh perhitungan.
   E.     Pengertian Group Decision Support System (DSS)
Pada masalah diagnosis sistem pendukung keputusan kelompok juga dapat diaplikasikan. Salah satu GDSS yang telah dikembangkan adalah GDSS untuk anamnesis, diagnosis, dan penatalaksanaan penderita gangguan jiwa non psikotis yang dikembangkan oleh Kusumadewi (2006). Sistem bertugas untuk mengoptimalkan aturan-aturan dalam basis pengertahuan sehingga sistem tersebut memiliki kemampuan untuk beradaptasi untuk mendiagnosis gangguan kejiwaan berdasarkan gejala-gejala yang diberikan oleh pasien. GDSS yang dibangun tersebut merupakan solicited advice, dimana sistem memberikan saran hanya pada saat sistem tersebut diinstruksikan untuk memberi saran. Pada sistem ini, pengguna (psikater, psikolog, residen, atau pengguna yang lain) secara eksplisit berkonsultasi dengan DSS.
Group Decision Support System (GDSS) merupakan suatu kelas dari sistem pertemuan elektronik, kolaborasi teknologi yang dirancang untuk mendukung pertemuan dan kerja kelompok GDSS adalah berbeda dari kerjasama yang didukung komputer (CSCW computer supported cooperative work) GDSS adalah teknologi yang lebih terfokus pada dukungan tugas, sedangkan alat CSCW memberikan dukungan komunikasi umum.
Group Decision Support System (GDSS) yang disebut sebagai sebuah Group Support System (SSU) atau sistem pertemuan elektronik sejak mereka bersama yayasan serupa. Namun GDSS hari ini ditandai dengan menjadi diadaptasi untuk sekelompok orang yang bekerja sama untuk mendukung terpadu pemikiran sistem pengambilan keputusan yang rumit. Peserta menggunakan komputer umum atau jaringan untuk memungkinkan kolaborasi.
Sistem pendukung pengambilan keputusan kelompok (GDSS) adalah sistem berbasis komputer yang interaktif, yang membantu pengambil keputusan dalam menggunakan data dan model untuk menyelesaikan masalah yang tidak terstruktur.
    F.      Manfaat Decision Support System (DSS)
Walaupun berbagai definisi telah dikemukakan, namun ada agreement atau kesepakatan umum yang menyatakan bahwa DSS adalah system berdasarkan komputer yang interaktif yang memudahkan pemecahan atas masalah yang tak terstruktur. Konsep “penunjang keputusan kelompok” membentuk gagasan yang kita kenal dengan sebutan DSS. System penunjang keputusan kelompok (GDSS) adalah system berdasarkan komputer yang interaktif yang memudahkan pemecahan atas masalah tak terstruktur oleh beberapa (set) pembuat keputusan yang bekerja sama sebagai suatu kelompok. Komponen GDSS meliputi hardware, software, orang, dan produser. Sifat yang penting dari suatu GDSS dapat disebutkan seperti berikut ini:
1. GDSS adalah system yang dirancang secara khusus, bukan menyerupai konfigurasi dari komponen system yang sudah ada.
2. GDSS dirancang dengan tujuan untuk mendukung kelompok pembuat keputusan dalam melakukan pekerjaan mereka.
3. GDSS mudah dipelajari dan mudah digunakan.
4. GDSS bisa bersifat “spesifik” (dirancang untuk satu jenis atau kelompok masalah) atau bisa bersifat “umum” (dirancang untuk berbagai keputusan organisasional tingkat kelompok).
5. GDSS berisi mekanisme built-in.
Definisi GDSS begitu luas dan, oleh karenanya, bisa berlaku atau diterapkan ke berbagai
situasi keputusan kelompok, yang meliputi panel review, task force meeting eksekutif/dewan, pekerja jarak jauh, dan sebagainya. Aktifitas dasar yang terjadi di kelompok manapun dan yang memerlukan dukungan berdasarkan komputer adalah :
a.       pemanggilan informasi, melibatkan pemilihan nilai data dari database yang ada maupun pemanggilan informasi sederhana.
b.      pembagian informasi, maksudnya menampilkan data pada layar penampil agar bisa dilihat oleh semua kelompok.
c.       penggunaan informasi, mencakup aplikasi teknologi software, procedure, dan teknik
pemecahan masalah kelompok untuk data.
TEKNOLOGI GDSS
Dalam model yang di buat umum ini, kelompok pembuat keputusan mempunyai akses ke
base data, base model, dan software aplikasi GDSS selama waktu meeting yang menetapkan suatu keputusan. Namun demikian, komponen dasar dari segala GDSS meliputi hardware, software, orang-orang dan prosedur. Selanjutnya kita akan membahas secara lebih rinci komponen tersebut.
HARDWARE
Tanpa memandang situasi keputusan spesifik, kelompok sebagai keseluruhan atau setiap
anggota harus dapat mengakses prosesor komputer dan menampilkan informasi. Keperluan (persyaratan) hardware minimal untuk system tersebut mencakup: peralatan input/output, prosesor, jalur komunikasi antara peralatan I/O dan prosesor, dan layer penampil untuk umum atau monitor perorangan guna menampilkan informasi kepada kelompok.
SOFTWARE
Komponen software dari GDSS meliputi database, base model, program aplikasi khusus
yang akan digunakan oleh kelompok, dan interface pemakai fleksibel yang mudah digunakan. Beberapa system GDSS yang sangan spesifik tidak memerlukan database; misalnya, system yang hanya mengumpulkan, mengorganisir, dan mengkominikasikan opini anggota tentang suatu masalah.software GDSS bisa dan tidak bisa berinterface dengan software DSS individual Komponen teknologi GDSS yang paling khusus adalah software aplikasi yang dikembangkan secara khusus yang mendukung kelompok dalam proses keputusan. Fasilitas yang tepat dari software ini sangat bervariasi, namun mencakup hal berikut ini:
a.       Fasilitas Dasar
-          Penciptaan teks dan file data, modifikasi, dan penyimpanan untuk anggota kelompok.
-          Word processing untuk mengedit dan memformat teks.
-          Fasilitas pembelanjaan untuk pemakai GDSS yang belum mampu.
-          Fasilitas “help” on-line
-          Worksheet, spreadsheet, decision trees, dan alat lain untuk menampilkan angka dan teks secara grafis.
-          Manajemen database yang state-of-the-art.
b.      Fasilitas Kelompok
-          Peringkasan grafik dan bilangan dari gagasan dan pendapat anggota kelompok.
-          Menu yang memberitahu (prompt) untuk memasukkan (input) teks, data, dan pendapat oleh anggota kelompok.
-          Program untuk prosedur kelompok khusus.
-          Metode penganalisaan interaksi kelompok sebelumnya dan keputusan.
-          Transmisi teks dan data diantara anggota kelompok, diantara anggota kelompok dan fasilitator, dan diantara anggota kelompok dan prosesor komputer sentral.
ORANG-ORANG
Komponen “people” (orang_orang) dari GDSS meliputi anggota kelompok dan “fasilitator kelompok” yang bertanggung jawab atas beroperasinya teknologi GDSS dengan baik ketika ia sedang digunakan. Peranan fasilitator bersifat luwes.
PROSEDUR
Komponen terakhir dari GDSS adalah prosedur, yang bisa memudahkan operasi dan membuat penggunaan teknologi oleh anggota kelompok menjadi efektif. Dalam kasus yang terakhir ini, GDSS bisa dirancang agar bisa mengakomodasi teknik pembuatan keputusan kelompok spesifik, seperti teknik kelompok nominal.